Sajak Taman Hati


?

Gemuruh subuh menabuh-nabuh. Entah berapa ribu Malaikat hadir berbaris-baris.

Menyambut putra Adam menembus dingin dan senyap subuh.

Segelintir dari mereka hadir menyambut seruan, sebagianya lagi terbelalak sejenak, kemudian melanjut terpulas.

Mega memerah, selesai sudah peristiwa subuh, tutup sudah moment istimewa itu.

?

Denyut-denyut kehidupan dimulai. Tumpukan tugas, target, mimpi menyambut.

Sedikit sekali pernah menyesal atas ketidaktercatatan dalam dua rakaat sembahyang yang terlewat purna

Waktu bergulir mengalir. Butir-butir keringat meleleh bersama fajar berganti terik.

Penat, letih, sesak, pelan-pelan tertunduk lesu berpikir akan hari.

?

Kalau lah matahari masih memendar, bergulir rapi tepat pada waktunya, hingga tiba di tengah-tengah langit begini.

Maka Siapa yang menahanya ?.

Pertanyaan lugu itu hanya sekelebat hadir, muncul seketika dalam rindangnya taman hati, yang terusik akan rahasia-rahasia hari, bumi, dan semesta.

?

Jiwa-jiwa gelisah bertanya untuk apa tercipta, apa hakikat hadirnya di bumi, dan mau kemana berpulang setelah mati ?.

Menuntut jauh dari sekedar bukti logika, perdebatan rasio, atau rumusan teori-teori.

Bukankah diri lemah ini lebih sederhana dari sebutir debu dalam lapangan alam semesta, yang telah ribuan tahun tak terjangkau ujungnya, tak tergapai atap dan dasarnya.

Tidak tenang rasanya membusung diri dalam kebesaran singgasana semesta.

?

Zhuhur berkumandang memanggil diri sepi yang masih bertanya menyesak nurani.

Memaksa beranjak dari keletihan siang, memutar deras keran, membasuh penat.

Menunai empat rakaat yang sungguh berat, bersaing dengan waktu makan dan lelap siang,

pelan, tapi makin dalam makin semerbak nyaman di dada.

Gugur segala galau, menelusup tenang di jiwa, seolah rindu terbayar.

?

Teriring ucap dua salam, terdengar sesayup merdu ayat Qur?an.

Merdu merona menyegar hati gelisah.

Tidak paham apa maksudnya, tapi indah dan jiwa pun mentakjubinya.

Ayat-ayat yang mengalun lembut, menetap tenang di dada, perlahan mengukir haru jiwa.

Siapa gerangan yang membaca dengan syahdunya ?.

?

Oh…lelaki itu rupanya. Lelaki paruh baya penjual sandal keliling, yang tadi tersenyum ramah di teras masjid.

Masih dengan tetesan wudhu di wajah dan janggutnya. Entah berapa rupiah ia dapat hari itu, tapi ia tidak terlambat jamaah zhuhur.

Masih hikmat dengan ayat-ayat Tuhan yang terucap fasih, sesekali menyeka air mata haru yang menelusuri pipi kurusnya.

Ia, yang dengan tambalan dibaju, dengan sarung usangnya, demikian khusyuk melantun, demikian fasih mengucap, dan mungkin demikian dalam memakna.

?

Memuji terkagum di hati. Mungkin derajatnya di negeri akhirat nanti jauh menjulang tinggi.

Makin menunduk malu pada nikmat melimpah yang melekat.

Membayang perjalanan panjang yang dilalui semenjak buaian hingga kini.

Membuka daftar panjang gelombang karunia dan pemberian yang tiada putus-putus.

?

Malu pada diri yang minim bersyukur. Sedikit mengingat, berpikir, merenungi.

Menyesak lagi haru itu, mengisi ruang-ruang dada akan syukur yang minim terucap sungguh, akan segala yang terfoya tak bermakna.

Senyap terisi lagi oleh lantunan ayat itu. Setetes demi setetes haru tak terbendung.

Hangat rasa jiwa, sejuk rongga hati, seolah gelisah pelan-pelan mereda.

?

Rindu. Lalu berdiri melanjut dua rakaat sunnah. Dan butiran-butiran haru menyesak dada.

Ruku? makin berat, kemudian di sujud tertumpah lah segala rindu.

Ini kah khusyuk ? ketika mengingat demikian nikmat, ketika tiap rukun demikian syahdu.

Sebentar rasa dua rakaat itu. Sedikit sekali seperti ini dalam untaian panjang usia.

?

Duhai Yang mengalirkan darah dengan letup-letup irama jantung yang berdegup merdu teratur, bersama dengan kembang kempis paru diiring hembus udara mengalun sejuk nikmat..dan sedikit pejaman mata makin mengantar tenang jiwa

Duhai Yang menjadikan tiap-tiap tautan saraf menghantar impuls listrik dengan cepatnya, hingga jari-jari ini bisa mengukir sajak-sajak hati yang tertunduk mentakjubi…

?

Kusampaikan sedikit untaian kata sederhana membungkus segenap cinta dan syukur atas Kemurahan-Mu. Juga atas saudara-saudara yang Kau hadirkan, yang mengajak menyalakan tungku gairah, memantik api harapan, membimbing menerangi pijak-pijak langkah dunia yang menutup gelap ruang hati dari benderang mengingat-Mu…

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s