Psikoneuroimunologi Salat Tahajud


Lucky Miftah Saviro

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Kedokteran Indonesia (FULDFK)

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi (KKIA), Divisi Pencerdasan Daerah Eksekutif Wilayah III

Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Program Studi Pendidikan Dokter, Angkatan 2007

September 2010

 

Salat tahajud yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusuyuk, ikhlas, dan kontinu diduga dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping. Dan, respons emosi positif (positive thinking), dapat menghindarkan reaksi stress.1

Dalam hal mengontrol respons emosi, dapat diupayakan dengan beberapa alternatif strategi. Taylor menganjurkan strategi kognitif redefinisi (cognitive redefinition), di mana seseorang dibantu untuk melihat masalah dari sisi pandangan yang lebih positif. Sedangkan, Lazarus menganjurkan strategi cognitive restructuring, yaitu upaya mengubah persepsi menjadi lebih realistis dan konstruktif tentang stressor.2

Orang yang menjalankan salat tahajud akan memenuhi dua strategi di atas karena esensi hikmah yang dapat diperoleh dari salat itu sendiri adalah hidup realistis, selalu optimis dalam kesiapan menghadapi berbagai problema hidup sehingga orang itu tetap bersikap konstruktif. Allah berfirman: “Salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya diperuntukkan kepada Allah Swt. (QS Al-An’am [6]: 162);” “Allah Swt. itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (QS Al-Fatihah [1]: 1).” Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang bisa menyebabkan mudarat dan menambahkan keuntungan selain izin Allah Swt.

Sebuah penelitian melaporkan bahwa dari hasil evaluasi kadar optimisme dan pesimisme 122 pria yang mengalami serangan jantung, delapan tahun kemudian, dari 25 orang yang paling pesimis, 21 di antaranya meninggal, dari 25 orang yang paling optimis hanya 6 orang yang meninggal.3 Apa yang menyebabkan hidup yang lebih panjang? Ada sebuah teori yang berpendapat bahwa sikap optimistis dapat menghindarkan diri dari depresi, cemas, dan stres; hal-hal yang sangat rentan untuk terkena kanker.

Dalam sikap optimistis, orang akan terjaga dan tetap dalam kondisi homeostasis. Homeostasis terjadi karena adanya mekanisme umpan balik (feedback mechanism) yang membatasi sebuah reaksi yang berlebihan agar tetap terjaga dalam keadaan yang seimbang. Kegagalan homeostasis terutama disebabkan oleh kegagalan mekanisme umpan balik yang dapat menimbulkan terjadinya stres yang berlebihan.4

Dalam bidang neurologi, terdapat sistem yang dapat mentransmisikan informasi neurologis dari Central Nervous System menjadi respons biologis dan fisiologis melalui kerja hormon, neuropeptida, neurotransmiter, Hypothalamic Pituitary Adrenal Axis (HPA), dan sistem syaraf otonom. Susunan tersebut terbukti merupakan alur yang sangat berperan dalam reaksi emosional, optimistis, stress, dan respons imun.5

Berbagai kondisi emosional (positif maupun negatif) dapat menyebabkan pengaktifan sistem HPA—walaupun berasal dari syaraf dan neurotransmiter yang berbeda; ia juga bisa mengakibatkan terjadinya tarik-menarik sikap positif dan negatif suasana emosional (tenang, optimistis, senang, atau cemas, susah, dan stres). Hal serupa juga terjadi dalam dinamika rangsangan psikis yang ditransmisikan melalui sistem limbik dan korteks prefrontal, sedangkan respons stres biologis terjadi lewat Reticular Activating System (RAS). Rangsangan yang ditangkap oleh reseptor di hipotalamus akan menyebabkan sekresi dari Corticotrophin Releasing Factor (CRF), yang berperan sentral dalam reaksi stres (sekresi CRF stabil dalam kondisi emosi positif). CRF merupakan salah satu dari sekian banyak faktor tropin yang dihasilkan di hipotalamus dan mempengaruhi produksi hormon-hormon pada hipofisis anterior (adenohipofisis). CRF mempunyai fungsi yaitu untuk produksi Adenocorticotropine Hormone (ACTH) yang berfungsi untuk menaikkan sekresi hormon, terutama kortisol dari korteks adrenal, berfungsi untuk menaikkan pemecahan lemak dan protein; menaikkan produksi glukosa; dan inhibisis respon imun. Hormon lain yang distimulasi oleh CRF adalah beta-lipoprotein (prekursor ACTH dan endorfin) oleh sel basofil hipofisis. CRF kemudian memicu reaksi HPA, melalui pelepasan faktor-faktor tropin kedalam kapiler eminentia medianus yang bermuara di adenohipofisis via sirkulasi portal hipofisis. Pada lobus anterior, faktor tropin (ACTH dan faktor tropin lain) merangsang sel kromofil untuk melepaskan atau menginhibisi hormon-hormon tropin tertentu. Hormon-hormon tropin adenohipofisis tersebut lalu menuju ke organ target masing-masing hormon untuk menjalankan tugasnya. Kadar serum hormon pada organ target mempunyai efek feedback pada faktor tropin hipotalamus.6

 

 

Keterangan Gambar:

1.     Akibat stimuli dari sistem saraf, releasing hormones disekresi dari neuron hipotalamus.

2.     Releasing hormones berjalan melewati sitem portal hipotalamohipofisial ke hipofisis anterior.

3.     Releasing hormones meninggalkan kapiler dan menstimulasi sel hipofisis anterior untuk melepaskan hormon yang ada.

4.     Hipofisis anterior dibawa oleh darah ke jaringan target (panah hijau) yang dimana, dalam beberapa kasus organ targetnya adalah kelenjar endokrin.

 

hipotalamo-hipofisial

Gambar 1 Hubungan antara hipotalamus, hipofisis anterior, dan organ target

 

Selain itu, medial parvocellular Paraventricular Nucleus (mpPVN) pada hipotalamus juga berhubungan dengan Locus Ceruleus (LC). Melalui koneksi aferen intrinsik yang ada pada hipotalamus, LC pada batang otak berhubungan dengan hipotalamus, dengan neurotransmiter noradrenergik.  Serat-serat saraf dari batang otak masuk ke dalam hipotalamus melalui medial forebrain bundle. Input dari korda spinalis mencapai hipotalamus via formasi retikular pada batang otak.6 Bersama hipotalamus, batang otak ikut mengontrol regulasi sistem otonomik dalam tubuh (sistem kardiovaskular, respirasi, dan fungsi gastrointestinal), melalui fasikulus longitudinal dorsalis (fascilucus of Schǖltz) dan traktus mamillotegmental. Meskipun penggambaran bagian hipotalamus yang mengontrol simpatis dan parasimpatis belum pasti, tampaknya hipotalamus bagian dorsal dan medial terkait dengan kontrol parasimpatis, sedangkan daerah kaudal dan lateral terkait dengan kontrol simpatis. Dengan demikian, aktivitas HPA juga mengaktifkan sistem syaraf otonom.7

 

amigdala aferen

Gambar 2 Diagram skematik koneksi aferen amigdala

 

sso

Gambar 3 Organ-organ yang di inervasi oleh Sistem Saraf Otonom.

 

Sekresi CRF oleh neuron mpPVN hipotalamus bergantung pada keseimbangan antara kondisi yang merangsang atau menghambat sintesis dan sekresi. Neurotransmiter untuk merangsang sekresi CRF adalah asetilkolin dan serotonin, sedangkan yang menghambat adalah kortisol dan Gamma Aminobutyric Acid (GABA), GABA terutama banyak berada di area hipokampus, sesuai dengan hipokampus yang berfungsi sebagai pengontrol respons emosi dan pengendali HPA.8

Pada keadaan stres, terdapat substansi yang menyerupai beta carboline, yaitu antagonis GABA yang diduga menyebabkan penurunan jumlah (down regulation) reseptor GABA. Berkurangnya reseptor GABA menyebabkan berkurangnya hambatan terhadap timbulnya kecemasan dan memudahkan reaksi stress.9 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dalam kondisi tenang, senang, dan optimistis, penuh harap (pengaruh salat tahajud), sekresi kortisol dan antagonis GABA, dan sintesis GABA menjadi positif normal.

Jika seseorang dapat menghayati makna salat tahajud, Insya Allah, orang tersebut mampu untuk mengendalikan masalah yang dihadapi, termasuk musibah yang menimpa dirinya. Artinya, salat tahajud dapat mengefektifkan coping. Coping didefinisikan sebagai upaya kognitif, maupun perubahan sikap, untuk mengatasi dan mengendalikan kondisi yang dimiliki sebagai stressor.10

Respon biologis dapat dipengaruhi oleh proses coping. Jika coping berhasil, maka stressor yang merupakan faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi stres, akan terdefinisikan sebagai faktor yang justru membuat seorang terpacu untuk berprestasi. Hal ini yang menerangkan bagaimana proses coping dapat menyebabkan perubahan atau perbaikan dalam sistem imunologi tubuh.11

Amigdala dan hipokampus pada sistem limbik, merupakan bagian otak yang berfungsi dalam mengatur motivasi, respons emosi, dan reaksi penolakan terhadap stimulus yang tidak diinginkan.12

 

limbic loop

Gambar 4 Diagram skematik menunjukkan substrat anatomis fungsi integrasi dari sistem limbik (the limbic loop)

 

Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa hipokampus mempertahankan tonus basal atau mengontrol aksis HPA, dan bersama struktur limbik lainnya berfungsi memberikan informasi yang didapat dari masa lalu yang telah tersimpan sebelumnya (storage), yang akhirnya dapat menilai apakah suatu stimulus merupakan stressor atau bukan. Oleh karena itu, encoding dari suatu rangsangan merupakan kondisi penting dalam proses belajar dan mengingat.13

Amigdala, yang merupakan komponen utama sistem limbik, mempunyai beberapa neurotransmiter termasuk asetilkolin, GABA, noradrenalin, serotonin, dopamin, substansi P, dan enkefalin. Di hipokampus, terdapat GABA dalam konsentrasi 1.000 kali lebih besar daripada konsentrasi monoamin, yang mencerminkan sifatnya sebagai neurotransmiter penghambat.14 Pada amigdala, terdapa dua grup nuklei yang dapat menerima input sensoris:

  1. Nuklei kortikomedial-sentral yang menjaga hubungan dengan area yang lebih tua secara filogenetik, seperti bulbus olfaktorius, talamus, hipotalamus, dan batang otak. Dapat menerima berbagai macam stressor dan melalui talamus dapat menimbulkan reaksi yang cepat untuk mempertahankan homesotasis tubuh.
  2. Nuklei basolateral yang memanjang sampai ke korteks serebri, dapat menerima input sensoris berupa kognisi dan asosiasi.

Berdasarkan informasi tersebut, analisis tentang rangsang oleh amigdala akan menghasilkan respons emosi yang kemudian diumpanbalikkan ke hipokampus bagian korteks prefrontal kiri dan kanan. Umpan balik ini menimbulkan kesadaran tentang respons emosi dan terjadi penyesuaian sikap. Apabila salat tahajud diterima sebagai stressor, secara integral, amigdala akan mengirimkan informasi kepada LC yang memicu reaksi pada sistem saraf otonom, kemudian di transmisikan ke hipotalamus, sehingga terjadi sekresi CRF.15

Sebaliknya, jika salat tahajud mendatangkan persepsi positif, amigdala akan mengirimkan informasi ke LC yang mengaktifkan reaksi saraf otonom. Lalu juga mengirimkan informasi ke hipotalamus, sehingga dapat mensekresi neurotransmiter (endorfin dan enkefalin), yang berfungsi sebagai analgetik dan pengendali kadar CRF. Akibat yang akan terjadi pada aksis HPA, yaitu stabilnya sekresi ACTH karena menurunnya kadar CRF. Begitu juga kortisol, adrenalin, noradrenalin, dan katekolamin, yang mempunyai reseptor alfa dan beta mengalami penstabilan sehingga pengaruhnya terhadap sistem imun menjadi positif.

Penelitian pada hewan maupun data klinis dengan fokus pada kedua mekanisme efektor dalam mempertahankan homeostasis menunjukkan adanya pengaruh aktivitas otonom maupun neuroendokrin terhadap respon imun atau imunokompetensi.16 Oleh karena itu, hormon neuroendokrin dikatakan berfungsi sebagai imunomodulator dan sebagian besar hormon neuropeptida dan neurotransmiter berikatan dengan limfosit.17

Berbagai penelitian pada tahun terakhir menunjukkan bahwa respons ketahanan tubuh imunologik adalah proses kompleks, tetapi terbukti pula bahwa respons ini tidak terjadi akibat adanya antigen saja, tetapi dapat dibangkitkan pula oleh mediator biokimia, yaitu hormon neuropeptida, neurotransmiter, dan sitokin. Kenyataan ini beralasan karena sistem imun merupakan bagian dari fungsi integral tubuh yang harusnya berinteraksi dengan sistem tubuh lain dalam mempertahankan homeostasis dengan mediator biokimia untuk berkomunikasi.18

Fungsi utama sistem imun tubuh adalah melindung tubuh dari invasi kuman dan patogen lainnya. Fungsi ketahanan tubuh ini dijalankan oleh komponen sel dan bahan-bahan terlarut dalam plasma yaitu antibodi dan sitokin yang menjadi mediator dari berbagai proses imunologik.

Imunitas merupakan suatu kemampuan tubuh untuk menghancurkan sel-sel asing yang masuk kedalam tubuh. Imunitas terbagi menjadi dua, Imunitas spesifik/adaptif dan Imunitas non-spesifik/innate immunity. Pada imunitas adaptif, reaksi tubuh terhadap antigen yang masuk selalu sama setiap kali antigen tersebut menyerang tubuh. Sedangkan imunitas non-spesifik, reaksi yang ditimbulkan akan semakin kuat ketika antigen yang sama masuk berulang kali. Spesifitas (kemampuan untuk mengenal atigen spesifik) dan memori (kemampuan untuk mengingat serangan sebelumnya dari antigen, sehingga sistem imun mampu memberikan respons imun lebih cepat) merupakan karakteristik yang hanya dimiliki oleh imunitas spesifik.19

Limfosit T dewasa diketahui mempunyai dua subset yang penting, yaitu subset yang mengekspresikan protein permukaan CD8 (Cluster of Differentiation 8), disebut juga sel T8 atau T sitotoksik, dan CD4, disebut juga sel T4 atau T helper, sebagian besar limfosit T dengan ekspresi glikoprotein CD8 mempunyai kemampuan sitotoksik atau membunuh sel yang dianggap sebagai antigen. Sedangkan limfosit T-helper (Th) menghasilkan sitokin (protein atau peptida yang dikeluarkan oleh sel untuk regulasi sel tetangga) yang berfungsi merangsang proliferasi dan meningkatkan kegiatan sel imun lainnya, terutama limfosit B dalam menghasilkan immunoglobulin. Terdapat juga limfosit T dengan ekspresi CD8 yang berfungsi sebagai imunoregulator dengan menjadi mediator dalam supresi respon imun, yaitu limfosit T suppressor (Ts).20 Nampak sepertinya sel T-suppressor adalah subkelas dari sel T-helper dan sel T-sitotoksik. Pada kondisi normal, dalam sirkulasi peredaran darah, terdapat 65% limfosit T dengan ekspresi CD4 dan 35% dengan ekspresi CD8 di dalam sirkulasi, dan sel T suppressor ini dapat mengurangi rasio CD4/CD8.21

Hormon-hormon pada HPA, yaitu CRF, ACTH, dan beta endorfin, diketahui dapat mempengaruhi respon imun. Walaupun disebutkan mempunyai efek merangsang proliferasi limfosit B maupun produksi beberapa limfokin, kadar CRF dalam sirkulasi sangat kecil sehingga diduga berfungsi local. Demikian pula halnya dengan pengaruh hambatan ACTH terhadap produksi immunoglobulin.22

Setan mengikat kuduk seseorang dengan tiga ikatan ketika ia tidur.

Lalu, setan memukul tempat tiap ikatan pada kuduk orang yang sedang tidur sambil berkata: ‘Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang’.

Bila seseorang yang tidur itu bangun dan berzikir kepada Allah Swt., lepaslah satu ikatan.

Lalu, jika ia pergi berwudhu, terurailah satu ikatan lagi, dan manakala ia salat, lepaslah ikatan terakhir sehingga ia menjadi bersemangat dalam ibadah, terlepas segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas

(HR Bukhari)”23

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s