Etika Bersin Dalam Islam


Sesungguhnya Allah itu menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila salah seorang diantara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap muslim yg mendengarnya untuk mendoakannya (HR Bukhari)

3. Tidak Mendoakan Mereka yang Tidak Memuji Allah

Suatu hari, ada dua orang bersin dihadapan Rasulullah. Namun, hanya seorang saja yg beliau doa’kan. Maka berkatalah orang tersebut, “Wahai Rasulullah, engkau mendoakan dia, akan tetapi engkau tidak mendoakanku.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya orang ini memuji Allah setelah dia bersin, sedangkan kamu tidak.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian bersin dan memuji Allah, maka doakanlah ia. Apabila dia tidak memuji Allah, maka jangan doakan dia.” (HR. Muslim)

Nyatanya, banyak orang yg merasa malu bila tidak mendoakan setiap orang yg bersin, meskipun yg didoakannya tidak memuji Allah. Semestinya kita berpandangan bahwa sikap atau petunjuk yg diberikan Rasulullah harus lebih diutamakan dari pada prinsip-prinsip yg lainnya.
Di sisi lain, ada sebagian ahli agama menganjurkan untuk mendoakan orang yg bersin meskipun kita tidak mendengar ucapan Alhamdulillah dari mulutnya. Tetapi, kita tahu pasti jika dia termasuk orang yg selalu mengucapkan Alhamdulillah setelah bersin, atau mulutnya komat-kamit setelah bersin, dan kita menyangka dia membaca Alhamdulillah. Yg lebih utama adalah mengaplikasikan makna tekstual dari hadits di atas; kalau tidak, bisa jadi setiap orang yg bersin mengaku bahwa dirinya telah mengucapkan Alhamdulillah secara tersembunyi.
Oleh karena itu, siapa saja yg bersin kemudian menggerakkan bibirnya dengan bacaan Alhamdulillah, sedangkan kita yakin dan tidak mendengarnya karena pelannya suara orang yg bersin tersebut, maka ia wajib didoakan. Apabila kita tidak begitu yakin, maka kita tetap harus mendoakannya, sebab bisa jadi dia lupa untuk memuji Allah.

4. Mengingatkan Orang yang Lupa Memuji Allah Ketika Bersin

Suatu hari, Abdullah bin Mubarak melihat orang yang bersin, tetapi dia tidak menucapkan Alhamdulillah, maka dia berkata kepadanya, “Apa yg diucapkan seorang muslim jika dia bersin?” Orang itu menjawab, “Orang tersebut harus mengucapkan Alhamdulillah.” Berkatalah Mubarak,”Yarhamukallah (Semoga Allah Merahmatimu)”

Sewaktu kita bertemu dengan orang yg bersin, sementara dia tidak melafadzkan kata Alhamdulillah, maka kita harus mengingatkannya karena ini merupakan bagian dari upaya saling menasehati dalam kebenaran dan saling menganjurkan kepada kebajikan.
Dalam  memberi peringatan kepada orang lain kita pun harus memakai redaksi kalimat yg indah dan santun. Bila orang yg terlupa memuji Allah itu adalah seorang ulama atau lebih tua dari kita, maka sebaiknya kita menggunakan kalimat dengan redaksi yg tidak langsung menunjuk kepadanya.

5.Tidak Mendoakan Setelah Bersin Tiga Kali

Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, maka orang yang ada di dekatnya harus mendoakannya, namun apabila dia bersin lebih dari tiga kali, maka orang tersebut terserang flu atau demam. Oleh karena itu, orang yg didekatnya tidak usah mendoakannya setelah bersin yang ketiga” (HR Ibnu Al Sunni)
Dalam riwayat lain beliau juga bersabda,”Doakanlah saudara kalian yg bersin tiga kali, apabila setelah itu dia masih bersin maka dia itu sakit flu atau demam.” (HR Abu Daud)
Dikisahkan juga bahwa ada orang yg bersin sewaktu Rasulullah berada di sisinya dan berkatalah ia kepadanya,”Yarhamukallah”. Dia lalu bersin lagi, Rasulullah pun bersabda,”Orang ini sakit flu atau demam” (HR Muslim)

6.Tidak Mendoakan Non Muslim yg Bersin dan Memuji Allah

Suatu ketika ada orang Yahudi yg sengaja bersin di hadapan Nabi, dengan harapan Nabi akan berkata kepadanya Yarhamukallah. Akan tetapi, Nabi hanya berkata kepada mereka, “Yahdikumullah wa Yushlihu Balakum” (HR Abu Daud)

Seseorang yang bersin dan memuji Allah setelahnya, maka orang tersebut senantiasa merasakan betapa besarnya anugerah dan
nikmat yg Allah berikan. Allah telah menjaganya dari marabahaya dan menjauhkan dirinya dari penyakit.
Sampai kapanpun juga kita tidak akan pernah mampu menyukuri setiap nikmat Allah yg jumlahnya tidak terhitung.
Sikap seperti inilah yg menimbulkan ketundukan dan bersimpuhnya kita dihadapan Allah…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s