Takut Miskin Di Akhirat


Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus
meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak
mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi
dengan seorang Guru, pemuda itu pun mengikuti
anjurannya untuk menjalankan kegiatan ibadah.

”Pak Guru, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah
sesuai anjuran Bapak, setiap hari. Namun, sampai saat
ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.

”Teruskanlah dan jangan berhenti, Tuhan selalu
mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Dia
mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang Guru.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga
kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga
belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya
bisa memenuhi kebutuhan hidup?”

”Ya tentu saja, pokoknya sabar,pasti ada jalan
keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Guru.Kiai. Setiap hari beribadah,
belum juga dikabulkan permohonan saya. Lebih baik saya
berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan
kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga
segera terjawab permintaanmu,”

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti
hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak
habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi
serambi.
Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana
yang sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi
dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan
beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang
permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati
si pemuda.

”Anda siapa?” tanya pemuda.

”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”

”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Tuhan Semesta Alam. Karena
pekerjaan ibadahmu di dunia.”

”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga
punya saya?”

”Betul!”

”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga
milik saya?”

”Betul sekali.”

Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana
syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun,
tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang.
Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek.
Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara
tersebut.
Ia pun menemui sang Guru sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.

‘Pak Guru, setelah bermimpi saya mendapati tujuh
mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah SWT
menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.

”Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu
adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama
3 tahun lalu.”

”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan
syurga saya Pak Guru?”

”Tidak ada, karena Tuhan Semesta Alam sudah membayar
semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia
di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa
menjadi miliader.”

”Ya, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik
aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat
nanti. Ya Tuhan Semesta Alam kumpulkan kembali
mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya
sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar
diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu
hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan
menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat
kelak.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s