Bolehkah Membebani Suami Dengan berbagai Permintaan?


Bolehkah Membebani Suami dengan Berbagai Permintaan? PDF Cetak E-mail
Rabu, 20 Februari 2008 20:56
Oleh: Syekh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminImageSalah satu hak di antara deretan hak istri adalah mendapatkan nafkah dan sandang secara layak. Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dari Muawiyah bin Haidah Al-Qusyairi – radhiyallahu ‘anhu – tatkala beliau bertanya pada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – tentang hak seorang istri atas diri suaminya.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menjawab, “Seorang istri harus mendapatkan makan sebagaimana yang kalian makan, mendapatkan pakaian sebagaimana yang kalian kenakan.” [Sunan Abi Dawud dalam kitab An-Nikah, bab hak perempuan atas suaminya, hadits No. 2142 dan hadits ini hasan. Lihat Jamii’ul Ushul, dengan hasil penelitian Abdul Qadir Al-Arna’uth, VI:505]

Dari hadits di atas, merupakan kewajiban seorang suami untuk selalu memperhatikan hal tersebut dengan senantiasa berusaha mencari nafkah yang halal agar memenuhi kewajibannya itu.
Manakala seorang suami sudah berusaha bekerja keras mencari nafkah, maka, bagi istri berkewajiban menenteramkan suami dengan ikhlas menerima berapa pun nafkah yang diberikannya, tanpa membebani suami dengan berbagai permintaan yang tidak mampu bagi suami merealisasikannya.
Namun, realita yang banyak terjadi justru bertolak belakang. Sebagian istri membebani suaminya dengan berbagai permintaan di luar kemampuan. Bahkan, ada kalanya mereka sampai berutang dengan alasan bahwa itu merupakan hak mereka. Apakah tindakan ini dibenarkan? Pertanyaan ini dijawab oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – rahimahullah – sebagai berikut:
Ini termasuk pergaulan yang buruk, Allah – ta’ala – berfirman,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا (٧)

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.” [Ath-Thalaq: 7]

Maka seorang istri tidak boleh menuntut sesuatu melebihi kemampuan suami dalam memberi nafkah, dan tidak boleh pula menuntut sesuatu melebihi tradisi yang berlaku, walaupun suaminya mampu memenuhi, berdasarkan firman Allah – ta’ala -,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut” [An-Nisaa’: 19]
Dan firman-Nya – ta’ala -,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang ma’ruf.”
[Al-Baqarah: 228]

Sebaliknya, seorang suami tidak boleh menahan pemberian nafkah yang diwajibkan atasnya, karena memang ada suami yang tidak melaksanakan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan keluarganya karena pelit. Dalam kondisi seperti ini, seorang istri boleh mengambil dari harta milik suaminya sekadar untuk mencukupi kebutuhannya, walaupun tanpa sepengetahuannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hindun binti Utbah – radhiyallahu ‘anha – mengadu kepada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, bahwa Abu Sufyan – radhiyallahu ‘anhu – (suaminya) adalah seorang laki-laki yang pelit, ia tidak mau memberinya nafkah yang bisa mencukupi kebutuhannya dan anaknya, maka beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

“Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik sebanyak yang bisa mencukupi keperluanmu dan mencukupi anakmu.” [Hadits Riwayat Bukhari, kitab Al-Buyu (2211) dan Muslim, kitab Al-Aqdhiyah (1714)]

Simpulan:
Seorang istri tidak boleh menuntut sesuatu melebihi kemampuan suami dalam memberi nafkah, dan tidak boleh pula menuntut sesuatu melebihi tradisi yang berlaku, walaupun suaminya mampu memenuhi.
Sebaliknya, seorang suami tidak boleh menahan pemberian nafkah yang diwajibkan atasnya. Apabila seorang suami tidak melaksanakan kewajiban memberi nafkah kepada istri dan keluarganya karena pelit dan kikir, maka, dalam kondisi demikian, seorang istri boleh mengambil dari harta milik suaminya sekadar untuk mencukupi kebutuhannya walaupun tanpa sepengetahuannya. Sebagaimana riwayat di atas. Wallahu a’lam.

Sumber: Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerbit Darul Haq.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s