Sesak Nafasku


Waktu seakan memburuku. Memojokkanku hingga aku tak dapat lagi bernafas. Sesak. Tercekik aku dalam udara yang dipenuhi keletihan yang sama. Tak dapatkah kuhirup sedikit wangi kebebasan di sini? Ingin aku kecap rasa keceriaan yang lama tak lagi kunikmati. Sel – sel darahku seperti memberontak keluar. Tak tahan lagi dengan segala macam kungkungan ini. Jika aku bisa mencair laksana air dalam garangnya mentari, maka aku memilih untuk menjadi embun. Beratnya rasa yang menggantung di udara tak lagi mengizinkan sinar itu singgah walau untuk sejenak. Hingga tak ada lagi Hanya dentuman-dentuman atom yang memburu listrik memercik di udara. Timbulkan kilatan cahaya kecil terangi maya dunia.

Hanya rasa yang semakin tebal dan gemuk memenuhi sudut dunia. Orang-orang dengan tali terikat di leher. Dunia seperti panggung tiang gantungan besar. Setiap orang menunggu bak tahanan dalam tali yang membelenggu. Hingga saatnya nanti tanah terbelah leher kurus, leher gemuk, tercekik dengan sendirinya. Menambah kepekatan udara. Membuat bumi semakin tambun dengan tubuh-tubuh yang ditelannya. Apakah aku memiliki tali itu? Jika ya, mengapa tanah di bawahku tak juga terbelah. Sudah kutunggu dengan penuh harap untuk tergantung dalam perut bumi. Tinggalkan rasa yang semakin menyiksaku.

Dulu pernah ingin kupotong tali yang melingkari leher tercantik yang pernah kutemui. Tak rela rasanya melihat tali nasib itu perlahan mengetat dan membuat biru kulit halus yang dicekiknya, sementara bumi menyambut kecantikan yang perlahan memudar seiring dengan tersengalnya nafas. Hanya saja tak dapat kuraih tali itu. Walau sudah berusaha kusambung dengan tali milikku agar aku dapat ikut dengannya bertamasya abadi dalam bumi. Perlahan simpulku dengannya terurai. Tinggalkan aku yang menggapai leher indah itu. Kecup manisku masih terpeta dalam biru yang semakin menyebar bagai darah merah merembes kain putih yang tergeletak. Saat itu kukutuk tangan yang memutuskan tali. Kucaci maki bumi yang dengan patuh menelan separuh hidupku.

Udara tak pernah sama sejak hilangnya benang merah milikku. Direnggut tali yang selesai dipintal dan terjatuh dalam ketiadaan. Hanya sesak menghimpitku. Tak lagi kunikmati sinar buram mentari. Sementara waktu memburuku. Menyuruhku bergegas selesaikan segala urusanku di muka bumi. Jika tidak maka bumi enggan menelanku. Taliku akan terus tergantung lunglai di leherku. Tak akan pernah ereksi bersama merekahnya bumi. Tapi nyala dalam hidupku hilang sudah direnggut oleh waktu yang sama. Direbut oleh bumi yang sama.

Aku hanya ingin berbaring dalam gelap. Tak bangun entah berapa abad. Hingga tubuh yang dulu tertelan dimuntahkan kembali. Saat hukuman untukku yang tak juga melakukan tugas berkumandang. Tapi kuterima segala keputusan si pembuat boneka. Asalkan aku dapat melihat lagi leher cantik milikku itu. Atau haruskah aku cari puncak tertinggi bumi dan kusangkutkan tali milikku. Hingga tak lagi kurasakan tanah di bawah telapak kakiku, hanya udara kosong. Lalu kusambut ketiadaan rasa yang melingkupiku.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s