Ya Allah
Di hari kemenangan ini
mohon ampuni hamba
yang kurang ilmu pengetahuan
hingga menganggap cinta adalah segalanya
Padahal ada ayat-ayat suci
tempat segala perintah untuk ditaati
semua hamba tanpa kecuali
tapi selama ini kuabaikan
karena menganggap diriku kekasih pilihan
yang cukup mempersembahkan
cinta, cinta, cinta tanpa amalan.
(more…)
Entries categorized as ‘Jeritan Hati’
Taubat Ku!
October 6, 2008 · Leave a Comment
Categories: Jeritan Hati
Maaf d:)
August 4, 2008 · Leave a Comment
Kenapa perasaan itu selalu bergejolak dijiwa
Tanpa bisa kumenghalaunya
Tanpa bisa ku berpaling darinya
Makin terus ku coba tuk tidak mencintainya
Makin bertambah pula rasa rindu padanya
Entah harus bagaimana aku menghadapi ini semua
Tapi ku harus berserah diri
Akan takdir & kehendak yang kuasa
Semua hanya bisa aku serahkan padanya
Sayang!!!
Maafkan jika aku selalu mencintaimu
Maaf jika dirimu selalu dalam hatiku
Maafkan daku jika kau selalu hadir dalam lamunanku
karena akupun tak mampu
Tuk menghidari & berpaling dari semua itu
Categories: Jeritan Hati
Cinta Yang Tersembunyi
July 23, 2008 · 2 Comments
Categories: Jeritan Hati
Aku Slalu Menyayangnya
July 23, 2008 · 2 Comments
Akhirnya harus ku akui… jika ternyata selama ini hanya bohong yang kuberi pada hatiku ini… hanya dengan satu kalimat aku lupakan semua nya aku hilangkan semua kenangan yang ada di hati semua tentang dirinya hanya dengan satu senyum aku teriakkan padanya bahwa aku bahagia dan aku tak merana tapi jauh dalam satu sudut di hatiku yang dalam aku ingin menangis aku ingin berteriak bahwa aku sangat kecewa dan aku sangat tersiksa ingin rasanya aku memeluk dan mengeluhkan semua tapi pada siapa…? dan untuk apa…? apakah bisa membuat berada disisiku ini dan akhirnya… akupun harus akui walau berat ku akui aku masih menyayanginya dan… “aku memang membutuhkannya”
Categories: Jeritan Hati
HAMBAMU YANG TIDAK TAU DIRI
July 17, 2008 · Leave a Comment
HASBUNALLAAH NI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULAA WANI’MANNASHIIR…
Lafadz singkat itulah yang membuatku akhir-akhir ini merasa malu pada Allah, begitu banyak ni’mat dan pertolongan yang Allah Ta’ala berikan kepadaku, namun justru kubalas dengan kema’siatan-kema’siatan yang semakin hari membuatku semakin jauh dari Allah, Dzat Yang Maha Besar, yang memberiku beribu bahkan bermilyar kenikmatan yang aku tak mampu menghitungnya. (more…)
Categories: Jeritan Hati
Sesak Nafasku
April 16, 2008 · Leave a Comment
Waktu seakan memburuku. Memojokkanku hingga aku tak dapat lagi bernafas. Sesak. Tercekik aku dalam udara yang dipenuhi keletihan yang sama. Tak dapatkah kuhirup sedikit wangi kebebasan di sini? Ingin aku kecap rasa keceriaan yang lama tak lagi kunikmati. Sel – sel darahku seperti memberontak keluar. Tak tahan lagi dengan segala macam kungkungan ini. Jika aku bisa mencair laksana air dalam garangnya mentari, maka aku memilih untuk menjadi embun. Beratnya rasa yang menggantung di udara tak lagi mengizinkan sinar itu singgah walau untuk sejenak. Hingga tak ada lagi Hanya dentuman-dentuman atom yang memburu listrik memercik di udara. Timbulkan kilatan cahaya kecil terangi maya dunia.
Hanya rasa yang semakin tebal dan gemuk memenuhi sudut dunia. Orang-orang dengan tali terikat di leher. Dunia seperti panggung tiang gantungan besar. Setiap orang menunggu bak tahanan dalam tali yang membelenggu. Hingga saatnya nanti tanah terbelah leher kurus, leher gemuk, tercekik dengan sendirinya. Menambah kepekatan udara. Membuat bumi semakin tambun dengan tubuh-tubuh yang ditelannya. Apakah aku memiliki tali itu? Jika ya, mengapa tanah di bawahku tak juga terbelah. Sudah kutunggu dengan penuh harap untuk tergantung dalam perut bumi. Tinggalkan rasa yang semakin menyiksaku.
Dulu pernah ingin kupotong tali yang melingkari leher tercantik yang pernah kutemui. Tak rela rasanya melihat tali nasib itu perlahan mengetat dan membuat biru kulit halus yang dicekiknya, sementara bumi menyambut kecantikan yang perlahan memudar seiring dengan tersengalnya nafas. Hanya saja tak dapat kuraih tali itu. Walau sudah berusaha kusambung dengan tali milikku agar aku dapat ikut dengannya bertamasya abadi dalam bumi. Perlahan simpulku dengannya terurai. Tinggalkan aku yang menggapai leher indah itu. Kecup manisku masih terpeta dalam biru yang semakin menyebar bagai darah merah merembes kain putih yang tergeletak. Saat itu kukutuk tangan yang memutuskan tali. Kucaci maki bumi yang dengan patuh menelan separuh hidupku.
Udara tak pernah sama sejak hilangnya benang merah milikku. Direnggut tali yang selesai dipintal dan terjatuh dalam ketiadaan. Hanya sesak menghimpitku. Tak lagi kunikmati sinar buram mentari. Sementara waktu memburuku. Menyuruhku bergegas selesaikan segala urusanku di muka bumi. Jika tidak maka bumi enggan menelanku. Taliku akan terus tergantung lunglai di leherku. Tak akan pernah ereksi bersama merekahnya bumi. Tapi nyala dalam hidupku hilang sudah direnggut oleh waktu yang sama. Direbut oleh bumi yang sama.
Aku hanya ingin berbaring dalam gelap. Tak bangun entah berapa abad. Hingga tubuh yang dulu tertelan dimuntahkan kembali. Saat hukuman untukku yang tak juga melakukan tugas berkumandang. Tapi kuterima segala keputusan si pembuat boneka. Asalkan aku dapat melihat lagi leher cantik milikku itu. Atau haruskah aku cari puncak tertinggi bumi dan kusangkutkan tali milikku. Hingga tak lagi kurasakan tanah di bawah telapak kakiku, hanya udara kosong. Lalu kusambut ketiadaan rasa yang melingkupiku.
Categories: Jeritan Hati
Pelabuhan itu tak ada
April 16, 2008 · Leave a Comment
Pelabuhan itu tak ada, mengertikah kau? Aku bukanlah pelabuhan yang kau cari untuk tempat kau berlabuh dan menambatkan perahumu. Aku hanyalah pulau tak bertuan. Pulau terpencil di tengah lautan yang tak memiliki pelabuhan. Oleh karena itu tak ada perahu yang singgah, hanya ada satu dua perahu yang cukup berani mendekat, berputar-putar beberapa saat, mencari tempat untuk berlabuh. Namun ketika akhirnya mengetahui tak ada tempat untuk berlabuh sejengkal pun, mereka pergi. Meninggalkan pulauku tetap sendiri.
Pelabuhan itu tak ada. Mengapa kau tidak memutar haluanmu dan pergi mencari pulau lain, pulau yang lebih indah nan eksotis. Dan yang pasti, memiliki pelabuhan tempat kau berlabuh. Kau sudah jatuh cinta pada pulauku, katamu? Ha ha ha…apa yang kau lihat dari pulauku jika menginjakkan kaki dalam putihnya pasirku saja kau tak bisa. Kau tak pernah menyibak semak belukar dalam hutan milik pulauku. Kau tak pernah mendaki gunung yang menjulang tinggi di tengah pulau. Kau tak pernah menikmati telaga tersembunyi dalam pulauku. Kau tak pernah menguak tabir yang melingkupi keindahan dan misteri dalam pulauku. Bagaimana bisa kau mencintai sesuatu yang belum kau kenal, kau sentuh, kau rasakan, untuk dicintai?
Pelabuhan itu tak ada. Kau-lah yang terus keras kepala mencari pelabuhan itu. Kau-lah yang bersikukuh pelabuhan itu ada. Walaupun letaknya sangat tersembunyi dan terpencil. Dan tak sembarang perahu bisa menemukannya, lalu berlabuh, menambatkan perahunya. Kemudian mulai melangkahkan kaki untuk menjelajahi pulauku. Mengenal pulauku. Mencintai pulauku. Memiliki pulauku.
Pelabuhan itu tak ada. Aku tak bersedia pulauku diinjak oleh siapapun. Karena seringan apapun pijakan itu, tetap akan meninggalkan bekas. Aku tak mau pulauku ternoda. Aku tak rela pulauku diklaim sebagai milik seseorang ketika ia berhasil menginjakkan kakinya ke pulauku. Aku tak sudi dijajah.
Pelabuhan itu tak ada. Jika memang benar pelabuhan itu ada namun masih tersembunyi, maka aku tak mengizinkan sebuah perahu pun untuk menemukan pelabuhan milikku. Biarlah pelabuhan itu usang tak terpakai, terbengkalai, dimakan waktu, karena aku tak mau menggunakannya. Biarlah kau yang memperbaikinya, katamu? Huh…aku tak sudi. Ketika kau memperbaikinya, kau pasti akan meninggalkan jejak langkahmu di pasir putihku. Kau akan menebang kayu dari pepohonan di hutanku. Kau akan menggunakan air dari sumber mata air di pulauku. Kau akan meninggalkan bekas di pulauku. Menorehkan noda.
Pelabuhan itu tak ada. Mengertikah kau aku tak ingin sebuah kapal pun berlabuh? Tidak juga kau yang telah sedemikian lama berputar-putar di dekat pulauku. Mengapa kau harus melihat pulauku? Mengapa kau harus memutuskan pulauku merupakan persinggahan terakhirmu? Mengapa kau harus jatuh cinta pada pulau tak bertuan yang sepi sendiri di tengah lautan luas? Apa hanya karena egomu untuk menaklukkan sesuatu yang tak bisa, tak mau dimiliki?
Pelabuhan itu tak ada. Kau ingin melindungi pulauku dari hujan badai, katamu? Kau ingin merawat dan memperhatikan pulauku sampai pada akhirnya pulauku bisa tumbuh berkembang, memekarkan sejuta pesona dan keeksotisan, katamu? Kau ingin memberi kehangatan cintamu di tengah-tengah musim dingin nanti, katamu? Kau ingin memayungi pulauku dari hujan di musim semi nanti, katamu? Kau ingin menyejukkan pulauku dari garangnya sinar matahari di musim panas nanti, katamu? Dan kau ingin bersamaku menyaksikan daun berguguran di musim gugur nanti, katamu?
Pelabuhan itu tak ada. Aku tak ingin kau menemani aku. Entah aku dalam kesendirian atau tidak. Aku tak mau. Biarlah pulauku sendirian. Aku terbisa sendirian menikmati percikan ombak dan tetesan hujan serta teriknya matahari. Pulauku akan tetap hidup tanpa kehangatan dan perlindungan dari siapa pun. Bunga akan tetap bermekaran pada musimnya, dan daun akan tetap berguguran jika saatnya tiba. Semua akan tetap berjalan sebagai mana biasa, entah kau ada maupun tidak.
Pelabuhan itu tak ada. Tidak. Aku tak kesepian seorang diri di pulauku. Aku tak merasa hampa di tengah kesendirianku. Masih ada matahari yang bisa kupintal menjadi selimut di musim dingin. Masih ada pelangi yang bisa kurajut menjadi gaun di musim semi. Masih ada angin yang bisa kubungkus menjadi bekalku di musim panas. Masih ada hujan yang bisa kupeluk menjadi kekasihku di musim gugur. Apa yang akan kubuat ketika kau bersamaku di pulau ini. Sudah kucukupi semua kebutuhaku. Aku tak membutuhkan dirimu di pulauku.
Pelabuhan itu tak ada. Pulauku sombong. Ya mungkin benar. Karena aku tak bisa menerima perahu lain. Aku yakin pulauku bisa mandiri tanpa ada perahu yang mesti berlabuh untuk bersama membantu dan merawat pulauku. Pulauku akan terus hidup tanpamu. Pulauku tak butuh apapun. Pulauku hanya butuh aku. Pulauku hanya milikku.
Pelabuhan itu tak ada. Bekalmu sudah menipis, katamu? Perahumu hampir tenggelam, katamu? Kau tak bisa pergi berlayar kembali mencari pulau lain, pelabuhan lain untuk berlabuh karena waktumu sudah habis, katamu? Lalu mengapa kau singgah demikian lama di perairan pulauku ketika kau tahu pulauku tak memiliki pelabuhan? Menghabiskan bekal dan membuang-buang waktumu? Kau tahu bekalmu sudah hampir habis, apakah kau memilih pulauku karena pada saat itu hanya pulauku yang tampak oleh nakhodamu? Bagaimana bisa nahkodamu tak melihat pulau lain selain pulauku? Jika saja kau mau membuka mata lebih lebar, bukannya terpaku apda pulauku, maka kau akan melihat pulau-pulau lain bertebaran di sekelilingmu, menanti sebuah perahu, perahu-Mu, untuk berlabuh di pelabuhan cantik mereka. Tapi mengapa kau malah menghabiskan bekalmu dengan datang ke pulauku yang jauh dan tak segera kembali?
Pelabuhan itu tak ada. Kembalilah berlayar, sayang. Aku tak bisa memberimu peta menuju pelabuhan kecil milikku, jika pelabuhan itu benar ada. Aku tak bisa memberimu izin untuk memperbaiki pelabuhan yang rusak karena badai bertahun-tahun, jika pelabuhan itu memang ada. Namun mungkin aku bisa memberimu sedikit tambahan bekal untukmu kembali berlayar. Aku bisa memberimu buah-buahan dari hutanku dan air dari mata airku satu sampan penuh. Bahkan aku bisa memberimu sepotong matahari dan segumpal angin untuk menemanimu mengarungi laut, mencari pulau lain yang lebih pantas untukmu berlabuh dan menanamkan jangkar.
Pelabuhan itu tak ada. Jangan kau coba-coba melompat naik dalam sampanku dan ikut aku kembali ke pulauku. Atau mencoba mengikuti sampan kecilku mencari tempat berlabuh. Karena kau akan tenggelam. Dan kau akan tenggelam membawa diriku bersamamu, karena sampan itu tak cukup besar untuk kita berdua. Sampanku dan perahumu pun tak akan muat di jalan menuju pelabuhanku. Kalaupun kau sampai dengan selamat di pulauku, maka kau-lah yang akan terpenjara di pulau itu sendirian, karena aku akan pergi, mencari pulau milikku seorang saja. Aku sudah memperingatkanmu, bukan?
Categories: Jeritan Hati





